Kemana Suara Hizbut Tahrir Indonesia? Masih Aja Golput?

Umat muslim Indonesia masih menunggu dan menanti kontribusi muslim Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di pilkada Jakarta.

Berikut ini tulisan Muhammad Elvandi, Lc. MA dari Global Policy Analyst, Manchester University yang mengingatkan kembali tentang pentingnya suara muslim meski hanya satu suara saja.

1. Pagi ini, teriak takbir menggema di langit-langit Jakarta. Momen politik kali ini bernuansa ‘jihad’ bagi umat Islam. Dan betul, inilah al-Jihad as-Siyasi (Jihad Politik).

2. Semangat umat Islam seantero negeri menyatu dalam irama 411 dan 212. Bayangkan, jutaan hadir ke Jakarta, tanpa kordinasi menuntut penista agama. Dan sekarang penista agama itu ada di salah satu pojok kertas suara.


3. Satu demi satu elemen umat Islam memberikan dukungan kebulatan suara, menolak pembuat gaduh NKRI. Ormas Islam, partai Islam, majelis ta’lim, forum-forum pemuda dan ibu-ibu, semua elemen umat Islam menanggalkan baju dan mindset kelompok dan melebur dalam agenda nasional keumatan.

4. Elit-elit ormas dan partai Islam yang mencoba menerobos, bergandengan dengan pembuat gaduh NKRI, mendapat kecaman keras. Kantor-kantor cabang protes, bahkan mengancam keluar jika elit-elit pemipin organisasi Islam tidak sesuai dengan ‘khittah’ (panduan) organisasi Islam tersebut.

5. Lalu dimana posisi kalian di depan momen besar umat Islam ini wahai saudara-saudariku Hizbut Tahrir Indonesia?

6. Saya faham saudara tidak percaya demokrasi, karena saudara anggap sistem kafir. Saya faham saudara tidak ikut sistem pemilu karena ia warisan taghut. Maka saudara memilih golput karena ingin BARA (berlepas diri) dari sistem yang tidak Islami sesuai definisi saudara.

7. Saya tidak sepakat atas semua gagasan tersebut, baik dari sisi manhaj tafkir, dakwah, akidah, ataupun sisi politik kontemporer atau konsep global governance. Tapi ada waktunya kita berdiskusi dan berdebat ilmiah, lain kali, dan saya selalu siap berdikusi, tapi bukan hari ini.

8. Hari ini adalah hari unjuk kontribusi keumatan. Hari dimana saudara bisa menunjukan kepada umat Islam posisi anda dalam sejarah negeri ini.

9. Saya bertanya ke salah seorang ustadz tokoh HTI yang saya kenal tentang kemungkinan sikap HTI. Jawab beliau HTI masih sama sikapnya, yaitu tidak ikut pemilu, tapi melarang umat Islam memilih pemimpin kafir.

10. Setidaknya ada kesamaan soal kriteria pemimpin, tapi sayangnya HTI akan golput. Saya ingin bertanya, dimana akal sehat dalam sikap ‘tidak mau dipimpin gubernur non-muslim tapi tidak ikut nyoblos?’.

11. Saudara tidak mau A menang, tapi saudara tidak mau ikut milih B. Jika semua orang sepakat dengan saudara, maka mereka semuanya tidak akan milih A, tapi tetap tidak menambah suara B, dan semua yang mendukung A akan mencoblos A. Siapa yang menang? Mohon dipikirkan sekali lagi, dimana logika paling sederhana yang bisa menerima sikap ini?

12. Lalu mungkin saudara ingin menghindar, kita bagi-bagi peran saja, yang lain berjuang dalam pemilu sedang HTI berjuang mengedukasi, ngisi pengajian, seminar-seminar kekhilafahan, dan taujih ghazwul fikri.

13. Akan ada waktu untuk itu saudaraku, tapi tidak hari ini. Hari ini ada sebuah ‘Wajibul Amal’, bahkan ‘Taajul Amal’ (mahkota amal) yaitu pemilu. Hari ini bagi warga Jakarta, Afdhalul A’maal-nya dalam definisi Ibnu Qayyim adalah nyoblos.

14. Mari melunak sejenak dari ide-ide saudara yang menolak demokrasi sistem kafir, karena kita, umat Islam, mempunyai kaidah-kaidah fiqh seperti “akhaffud dhararain” (mengambil kemudharatan yang teringan) atau Fiqh Aulawiyyat (Fikih Prioritas), Fiqh Muwazanah (Fiqh Komparasi) yang usianya jauh lebih tua dan fundamental dari gagasan-gagasan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Hasan al-Banna, Al-Afghani atau pemikir muslim manapun.

15. Saya tidak tahu ada berapa ratus, ribu jumlah HTI di Jakarta. Tapi saya yakin satu hal, bahwa ‘every vote matters’ (setiap satu suara berharga).

16. Alkisah, di Cairo dulu, waktu saya kuliah, ada pemilu mahasiswa, pemilih sekitar 1000 orang, dari dua pasang calon, salah satunya menang dengan selisih 2 suara. Semua pendukung yang kalah dan tidak sempat nyoblos menyesal, tapi ‘as-shaifu dhoyya’til laban’ (sudah terlambat).

17. Jika hal itu akan terjadi di Jakarta, jangan sampai saudara adalah kelompok yang menyesal itu.

18. Waktu masih ada, mari keluar rumah, bawa KTP saudara, ucapkan bismillah, dan rasakanlah sekali ini, mencoblos untuk menaati kaidah syariat ‘akhaffud dhararain’. Kalau perlu berdoalah seperti ini saat mencoblos “Ya Allah hadza li tahqiiqi khilafatika fil Ardhi”.

19. Dan umat Islam akan menyaksikan siapa saja yang mengharap keridhaan Allah dengan kontribusi konkret di pagi ini.

20. Saudaraku HTI, semua akan tertulis dalam memori kolektif kita semua sebagai umat Islam, sebagai bangsa Indonesia, sepanjang masa, dan tertulis juga dalam catatan akhirat nanti.

sumber http://elvandi.com/menanti-kontribusi-muslim-hti/


Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Kemana Suara Hizbut Tahrir Indonesia? Masih Aja Golput?