Astagfirullah, Pemuda Ini Bangga Dengan Kemurtadannya Tantang Dr. Zakir Naik

Ada peserta yang maju ke depan untuk berbicara dengan Dokter Zakir Naik ketika di Makassar, Senin (10/4) kemarin. Dia bukan seorang muslim. Dari Myanmar, namanya Junaid. Seorang intelek.

"Saya non-muslim. Saya pindah agama dari muslim menjadi non-muslim karena tidak yakin dengan agama Islam," kata Junaid yang berjas dengan daleman baju kotak-kotak.

Ia tahu tentang sejarah namun tidak mau panjang-panjang. Junaid belajar ilmu politik. Islam katanya berasal dari ilmu sosial. Zaman dulu tidak ada pendidikan yang baik, jadi manusia memiliki kesulitan untuk belajar. Politik lebih baik daripada proses belajar.

"Saya tidak melihat agama memberikan hasil yang besar dalam mengimprove society. Bagaimana pandangan Anda tentang ini?"


Menurutnya agama hanya dibuat oleh manusia.

Zakir Naik menanyakan, "Apakah seharusnya kita fokus agama atau ke politik? Seharusnya kamu membaca Alquran, topik ilmu modern sangat sesuai dengan Alquran. Anda kok kesulitan bilang Alquran?

Di dalam bahasan ini adalah Alquran adalah ilmu modern. Dengar jawaban saya. Anda memiliki masalah di benak Anda. Alquran adalah buku terbaik di dunia. Berisi banyak guidance dan juga hal-hal lain," katanya.

Orang yang membaca Alquran, kata Zakir, tapi tidak menyakininya, maka kehilangan cahaya. "Ada yang sakit dengan pikiran Anda. Aneh jika Anda berpikir bahwa manusia yang menciptakan agama. Di sisi Allah, agama yang diridhoi adalah Islam," ujarnya.

Selama 10 hari di Indonesia, membuat Zakir terbengong-bengong. "Saya jawab pertanyaan Anda. Dengarkan. Padahal penduduknya 88 persen muslim, saya menemukan bahwa banyak yang bangga menceritakan bahwa saya muslim tapi saya atheis, saya murtad. Seharusnya kita malu sebagai muslim, jika ada yang pindah agama ke selain Islam. Maka saya malu karena seharusnya saya yang berdakwah kepada mereka.

Kami di India adalah minoritas. Di sana seorang muslim yang mengaku pindah agama sangat malu. Di sini kok orang-orang sangat senang pindah agama. Kami bilang kami toleran. Apa artinya toleransi ini? Saya tanya ke mereka. Jika anak Anda menjadi pecandu, apa yang Anda lakukan? 'Saya marah, kenapa?' Kan Anda toleransi kalau anak Anda terjun dari lokasi yang tinggi apa yang Anda lakukan? Toleransi juga kah? Begitu juga jika anak Anda pindah agama dari Islam ke agama lain.

Agama Islam harus diajarkan kepada semua orang karena Islam adalah agama yang diridhoi Allah. Jika Anda tidak menahan anak Anda dari narkoba, maka kamu berdosa. Jika anak Anda berpindah agama, Anda malah cengengesan. 'Anak saya pindah ke Kristen atau ke Hindu, bangga sekali'. Jika di India maka anak yang seperti itu akan dikucilkan. Apa yang terjadi dengan komunitas muslim Indonesia saya tahu banyak yang menjalankan Alquran dan Sunnah. Saya hanya berdoa agar orang-orang di Indonesia Saya lihat ada pencerahan dan cahaya kecil di generasi baru. Semoga para pemimpin keagamaan mendukung ini.

Bayangkan di tempat hari ini, ada orang yang lahir dari muslim lalu berpindah berbicara tentang ilmu politik yang dirasa lebih tinggi dari Alquran," ungkapnya.

Zakir bertanya, "Mana yang lebih established political atau ilmu pasti? Mengapa Anda berpikir untuk mengganti hard science dengan political science? Apa yang saya lakukan sekarang? Mengedukasi masyarakat, Alquran ini lebih superior dari ilmu manapun. Anda mahasiswa politik malah mengajari dokter medis. Saya beralih dari dokter badan menjadi 'dokter jiwa'. Ketika saya menjadi dokter, saya bahagia tapi ketika saya jadi 'dokter jiwa' saya jauh lebih bahagia.

Allah memberikan petunjuk jauh lebih baik dari sekadar ilmu politik dan Anda bilang kenapa kita tidak mengikuti ilmu politik saja? Ada yang salah dalam pikiran Anda. Harus dihilangkan itu." [bdn]

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Astagfirullah, Pemuda Ini Bangga Dengan Kemurtadannya Tantang Dr. Zakir Naik